Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian Layu
Dalam Al-Quran, tepatnya Surat
Thaha ayat ke-131, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ
مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah kamu
tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada
golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji
mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Sementara itu Imam Al-Bukhari no.
1465 dan Imam Muslim no. 1052 meriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu
‘anhu-, ujarnya, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam duduk
di mimbar sedangkan kami duduk di sekelilin beliau. Beliau bersabda,
إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ من
بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا و زينتها
“Sesungguhnya di
antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah
dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian.”
Pada ayat dan hadits tersebut di atas,
kehidupan dunia diibaratkan sebagai bunga. Pertanyaaannya, apakah hubungan
antara dunia dan bunga sehingga bunga dijadikan sebagai sample kehidupan
dunia? Jawabannya dapat kita telaah sebagai berikut.
Ketika suatu tanaman yang hendak
mengeluarkan buahnya, biasanya diawali dengan kemunculan bunga. Kadang kala
bunga itu terlihat indah dan di saat lain terlihat begitu sangat menawan.
Bahkan terkadang tidak sedikit orang yang memandangnya berhasrat untuk
memetiknya dan dibawanya pergi. Namun tahukah kita sekiranya bunga tadi
benar-benar dipetik sebelum berubah menjadi buah? Ternyata tidak akan berapa
lama kemudian akan segera layu dan pada akhirnya akan dicampakan oleh sang
pemetiknya. Memang jika masih berada di tangkai, terlihat begitu mempesona,
namun jika diambil saat itu juga maka yang terjadi adalah malah justru menjadi
layu, tak tahan lama. Berbeda ceritanya jika kita biarkan bunga itu terus
berada di tangkainya sedikit agak lebih lama, tentu bunga tersebut akan berubah
menjadi buah yang tidak saja indah dan menyejukkan pandangan jika dilihat, akan
tetapi juga dapat dikonsumsi.
Dan gambaran dunia pun dapat
dipastikan sebagaimana kisah bunga di atas. Kehidupan dunia itu terlihat begitu
indah menawan di mata siapa saja yang melihat dan memandangnya. Tahta, jabatan,
wanita, keturunan, harta, benda, dan seterusnya. Keseluruhannya itu nampak
begitu menggoda dan membuai normalnya jiwa manusia tergoda dan berhasrat untuk
menggapai dan menikmatinya. Akan tetapi sungguh, segala yang terlihat indah di
mata itu sejatinya akan jauh lebih indah jika ditunggu sebentar saja nanti
ketika datang kampung kekelan di akhirat. Adapun orang-orang yang terlena dan
tergoda sehingga tak dapat menahan kecuali memetik dan menikmatinya, sungguh
cepat ataupun lambat segala sesuatu yang dinikmatinya itu akan layu dan nampak
suram dan bencana yang sangat mencekam. Demikianlah Allah menguji
hamba-hamba-Nya agar dapat terlihat mana di antara mereka yang benar-benar
jujur dan taat mematuhi segala titah-Nya, dan mana di antara mereka yang
terburu-buru menikmati keindahan sebelum datang waktunya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam pernah mengatakan, bahwa dunia itu laksana surga bagi orang
kafir, dan penjara bagi orang mukmin (HR Muslim). Kenapa? Karena di dunia itu
dipenuhi aturan-aturan yang sama sekali tak boleh diterjang. Ada halal-haram,
ada perintah-larangan, ada ini dan itu. Kerap kali untuk menjalankan suatu
perintah, harus meninggalkan beberapa perkara yang nampak indah dan di saat
tertentu harus menelan rasa pahit. Seluruh perintah ini hanya akan dilaksanakn
oleh orang-orang mukmin karena meraka bersabar dan yakin bahwa kehidupan
sebenarnya yang terdapat berbagai kenikmatan hanya akan ada di akhirat, di
dunia bukanlah tempat berfoya-foya dan leyeh-leyeh. Dalam sebuah
kaedah agung disebutkan,
من تركَ شيئًا للهِ ، عوَّضهُ اللهُ
خيرًا منه
“Orang yang meninggalkan
sesuatu karena Allah, pasti Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih
baik untuknya”
Sedangkan orang kafir terburu-buru
dan tidak sabar menikmati kemewahan dunia yang tak ubahnya fatamorgana. Di
dunia mereka berfoya-foya dengan disertai ejekan dan cemoohan pada orang-orang
yang mau bersabar, kelak orang-orang kafir itu akan merasakan akibatnya. Ketika
mereka sudah merasakan indahnya dunia, kelak di negeri kekal tak akan lagi
merasakan indahnya surga. Nerakalah tempat teduh mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا
مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ * وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ *
وَإِذَا انقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَكِهِينَ * وَإِذَا رَأَوْهُمْ
قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ * وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ *
فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ * عَلَى الْأَرَائِكِ
يَنظُرُونَ * هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang
beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di
hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan
apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali
dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin,
mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang
sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga
bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman
menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan
sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi
ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS
Al-Muthaffifin: 29-36).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ
عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ
جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا* وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ
لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا
“Barangsiapa
menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia
itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan
baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu
dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah
orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS
Al-Isra’: 18-19).
Dalam sebuah kaidah fikih
disebutkan sebagai berikut,
مَنِ اسْتَعْجَلَ الشَّيْءَ قَبْلَ
أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Orang yang terburu-buru
melakukan sesuatu sebelum saatnya, akan diharamkan melakukannya (setelah datang
waktunya).”
Contoh kongkrit selain orang kafir
yang tak sabar menikmati dunia ialah seperti apa yang dikatakan oleh baginda
Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, “Janganlah
kalian memakai sutera, karena barang siapa yang memakainya di dunia, maka tidak
akan memakainya di akhirat.” (HR Al-Bukhari-Muslim).
Walaupun ada dua kemingkinan
maksud di atas, yaitu orang yang memakai sutera di dunia kelak di akhirat tidak
akan masuk surge dan kemungkinan lain orang yang terlanjur memakai sutera di
dunia kelak jika masuk surga tidak lagi mengenakannya.
Begitu pula dengan khamar dan
banyak lagi contohnya.
Kaedah tersebut di atas bermakna
luas dan umum. Seperti yang kita contohkan di atas, bahwa orang kafir telah
mengambil keputusan menikmati keindahan hidup di dunia, padahal dunia bukanlah
tempat berfoya-foya. Oleh sebab itu kelak di akhirat yang merupakan tempat
kekal abadi yang sebenarnya tempat yang dijanjikan adanya nikmat agung, kelak
mereka tak lagi dapat menikmatinya. Padahal jika mereka mau sedikit bersabar
dengan meninggalkan hal-hal yang Allah murkai, mereka akan merasakan kenikmatan
yang amat lebih indah dan nikmat.
Oleh sebab itu jangan kita merasa
heran dengan keadaan orang-orang kafir di dunia. Allah Ta’ala pernah
mengatakan,
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ
الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ
ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Janganlah sekali-kali
kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu
hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam;
dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Alu ‘Imran:
196-197).
Dunia memang laksana fatamorgana.
Sepertinya megah, namun pada hakekatnya lemah. Menurut bahasa Arab, dunia
berarti hina dan dekat. Hina karena harganya yang tak ada apa-apa dibanding
akhirat. Dekat karena kedekatannya dengan kampung akhirat.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ
الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah
kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya
akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS
Al-‘Ankabut: 64).
Dia juga berfirman dalam surat
Al-Hadid ayat ke-20,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي
الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ
ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ
عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan
dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu.”
Maka manakah yang akan Anda pilih
di antara keduanya? Akhirat yang telah disiapkan azab dan siksa yang pedih bagi
orang-orang yang lebih mementingkan dunia daripada akhirat, ataukah ampunan dan
keridhaan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang-orang yang lebih
mementingkan akhirat daripada dunia?
Imam Ahmad meriwayatkan dari
hadits Al-Mustaurid bin Syaddad –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh,
tempat cambuk kalian di surga lebih baik daripada dunia seisinya.”
Imam Muslim meriwayatkan dari
hadits Al-Mustaurid bin Syaddad pula, Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda, “Dunia dibandingkan akhirat hanya seperti
salah seorang di antara kalian yang memasukkan jari tangannya ke dalam lautan.
Perhatikanlah apa yang dibawa oleh jari itu?!”
Pada suatu kesempatan
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berjalan di
kerumunan pasar melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil. Lantas
beliau Shallallahu’alaihi Wasallam mengangkatnya dengan
memegang telinganya seraya bersabda, “Siapa di antara kalian yang mau
membeli ini seharga satu dirham?”
Para shahabat menjawab, “Kami
tidak ingin membelinya seharga apapun. Apa yang bisa kamu perbuat dengannya?”
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam mengatakan, “Apakah kalian ingin memilikinya?”
Para hadirin menjawab, “Demi
Allah, sekiranya masih hidup pun cacat, bangkai itu bertelinga kecil, lalu
bagaimana lagi ketika ia sudah menjadi bangkai?”
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda, “Demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi
Allah daripada bangkai itu di pandangan kalian.” (HR Muslim, dari
Jabir –radhiyallahu ‘anhu-)
Imam Muslim meriwayatkan dari
hadits Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda,
يُؤْتَى بِأَنْعَم أَهْلِ
الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ
صِبْغَةً ، ثُمَّ يُقَالُ : يَا ابْنَ آدَمَ؛ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطٌّ؟ هَلْ
مَرَّ بِكَ نَعِيْمٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لَا وَ اللهِ يَا رَبِّ.
وَ يُؤْتَى بِأَشَدِّ النَاسِ
بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيُصْبَغُ صِبْغَةً فِي
الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطٌّ؟ هَلْ
مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لَا وَ اللهِ، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطٌّ،
وَ لَا رَأَيْتُ شِدَّةٌ قَطٌّ.
“Pada hari kiamat akan dihadirkan
orang yang paling merasakan nikmat di dunia dari kalangan penduduk neraka.
Kemudian ia dicelupkan sekali ke dalam neraka lantas ditanyakan padanya, ‘Hai
manusia, apakah kamu pernah melihat kebaikan, apakah kamu pernah merasakan
kenikmatan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah
wahai Rabb-ku.’
Dan dihadirkan orang yang paling
sengsara di dunia dari kalangan penduduk surga lalu dicelupkan ke dalam surga
dengan sekali celupan. Ditanyakan padanya, ‘Wahai manusia, pernahkah kamu
melihat satu penderitaan? Pernahkah kamu merasakan kesulitan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah,
aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali dan aku tak pernah melihat
adanya kesulitan sedikitpun.’”
Demikianlah. Seorang muslim
seharusnya benar-benar menyadari betapa dunia hanya negeri yang penuh dengan
fatamorgana. Dunia bukanlah tempat bersenang-senang dan beristirahat. Dunia
merupakan kampung mencari bekal. Sebaliknya, akhiratlah tempat memetik buah
amal. Jika perbuatan yang diusahakan di dunia baik, tentu balasan di akhirat
pun akan baik, dan demikian sebaliknya.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim
melaporkan dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya
Rasululullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mengatakan,
اَللهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشَ
الْآخِرَةِ
“Ya Allah, tidak ada
kehidupan kecuali kehidupan akhirat.”
Kemudian mari kita melihat
kehidupan para suri tauladan kita yang benar-benar menyadari betapa dunia tak
ada harganya sama sekali jika tidak dimanfaatkan sebagai kampung mencari bekal
akhirat. Mereka menanggap bahwa harta bukanlah segalanya sehingga mereka tidak
begitu berhasrat mengumpulkannya dan bahkan jika sudah di tangan, mereka begitu
antusias untuk segera mengalihkantangan.
Ini dia Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam pernah menyatakan, “Seandainya saya memiliki emas
sebesar gunung Uhud tentu aku bergembira manakala tidak sampai tiga hari pada
emas itu aku tidak memilikinya sedikit pun kecuali beberapa dinar yang aku
simpan untuk keperluan hutang.” (HR Al-Bukhari-Muslim).
Sehingga ‘Amr bin Al-Harits
menceritakan, “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam wafat,
beliau sama sekali tidak meninggalkan dinar, dirham, budak laki-laki, budak
wanita, atau apapun kecuali keledai yang beliau kendarai dahulu, senjatanya,
serta tanah yang sudah beliau wakafkah untuk ibnu sabil.” (HR Al-Bukhari)
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam sendiri ketika hidupnya tidak pernah menolak orang yang
menengadahkan tangan padanya. Sehingga saat tidak ada lagi tersisa harta di
tangannya, beliau menyampaikan uzur.
Adalah dua puteri Abu Bakar
Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhu– yang masing-masing bernama Asma’ dan
‘Aisyah memiliki kebiasaan bersedekah yang luar biasa. Bedanya jika Asma’ tidak
pernah sabar melihat harta yang ada di tangannya, sementara ‘Aisyah biasa
mengumpulkan hartanya terlebih dahulu hingga banyak baru kemudian beliau
sedekahkan.
Maka celakalahh bagi mereka yang
masih mengagungkan dunia. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah
menegaskan, “Celakalah hamba dinar dan hamba dinar, (celakalah) hamba
qathifah (pakaian yang dihiasai renda-renda yang bergelantung-pent)
dan khamishah (selimut persegi empat-pent).” (HR
Al-Bukhari).
Dan perlu diketahui bahwa harta
kesenangan di dunia hanya ada 3, yaitu apa yang dimakan kemudian lenyap, apa
yang dipakai hingga rusak, atau apa yang disedekahkan sehingga kekal lestari.
Demikian yang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terangkan
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Shahabat ‘Abdullah bin Asy-Syikhkhir –radhiyallahu
‘anhu– dan direkam oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Sungguh indah sya’ir yang
dibawakan Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam muqaddimah Riyadh
Ash-Shalihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin,
إِنَّ لِلهِ عِبَادًا فُطَنَا ***
طَلَّقُوْا الدُّنْيَا وَ خَافُوْا الْفِتَنَا
نَظَرُوْا فِيْهَا فَلَمَّا
عَلِمُوْا *** أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَ اتَّخَذُوْا
*** صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيْهَا سُفَنَا
Sesungguhnya Allah memiliki
beberapa hamba yang cerdik,
mereka menceraikan dunia karena
khawatir bencana
Mereka merenungkan isi dunia,
ketika mereka mengetahui bahwa dunia bukanlah tanah air orang yang hidup
Mereka pun menjadikannya laksana
samudera dan menjadikan amal shalih sebagai bahteranya
Al-Hafizh An-Nawawi –rahmatullah
‘alaih– mengatakan, “Jika keberadaan dunia adalah seperti yang telah saya
kemukakan tadi, dan status kita serta tujuan kita diciptakan adalah seperti
yang telah saya sampaikan (untuk mengabdi pada Rabbul ‘alamin),
maka sudah semestinya bagi setiap mukallaf membawa dirinya ke
jalan orang-orang pilihan dan menepaki jalan orang-orang yang memiliki akal,
nalar, dan pikiran.”
Setelah kita mengetahui penjelasan
ringkas di atas, sadarlah kita bagaimana seorang mukmin hanya akan
bersenang-sedang dan menikmati jerih payahnya di dunia yang penuh dengan
duri-duri dan jalan-jalan terjal. Apatah lagi tidak sedikit orang yang
mencemooh dan menghina mereka yang terkadang berpenghidupan serba kekurangan,
menurut mata telanjang. Padahal sungguhnya kebahagiaan dan kekayaan dalam
artian cukup itu hanya ada dalam hati, bukan harta, tahta, wanita, dan
keturunan. Sebab betapa kita sering mendengar tidak sedikit orang yang memiliki
kekayaan hebat; istana megah, kendaraan mewah, penampilan wah, namun
kehidupannya berakhir dengan bunuh diri. Jika memang itu kebahagiaan, lantas
mengapa mereka bunuh diri?!
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَ
جَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia itu penjara
bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
Semoga
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan untuk terus
istiqamah menjalankan segala bentuk titah-Nya dan menjauhi sejauh-jauhnya apa
yang menjadi larangannya. Wallahua’lam. Sumber Gambar

Komentar
Posting Komentar